Carilah / temukan kata – kata yang berhubungan dengan kehidupan nenek moyang !


Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan
kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu.
Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin,
Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm,
tinggi 115 cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian
tidak menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan di
antaranya adalah manik-manik dan gerabah. pada umumnya dolmen banyak ditemukan
di Jawa Timur dan Sumatera Selatan Dolmen merupakan hasil kebudayaan
megalitikum, dimana pada zaman megalit bangunannya selalu berdasarkan
kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati terhadap
kesejahtraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Domen ini merupakan sebuah media
atau peralatan yang dipergunakan untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap roh
nenek moyang.

Dolmen adalah sebuah meja yang terbuat dari batu yang berfungsi sebagai
tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai
untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang
buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu. Hal
ini menunjukan kalau masyarakat pada masa itu meyakini akan adanya sebuah
hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup, mereka percaya
bahwa apabila terjadi hubungan yang baik akan menghasilkan keharmonisan dan
keselarasan bagi kedua belah pihak.
Menurut pengamatan Hoop, dolmen dolmen yang paling baik terdapat di
Batucawang. Papan batunya yang berukuran 3 x 3 meter dengan tebal 7 cm, terletak
di atas empat buah batu penunjang. Salah satu dolmen yang digali di Tegurwangi
diduga berisi tulang-tulang manusia. Tetapi benda-benda lain yang dianggap
sebagai bekal kubur tidak ditemukan. Selain dolmen, di daerah ini banyak
ditemukan patung-patung batu, yang diduga merupakan patung nenek moyang. Di
antara dolmen-dolmen tersebut terdapat juga dolmen yang papan batunya ditunjang
oleh enam batu tegak. Tradisi setempat menyatakan bahwa tempat ini merupakan
pusat kegiatan upacara pemujaan nenek moyang dan tempat tempat untuk penguburan.
Di daerah ini ditemukan pula domen bersama-sama menhir. Temuan dolmen-dolmen
lainnya terdapat di Pamatang dan pulau Panggung, dan di kedua tempat pula
ditemukan patung batu. Daerah temuan lain ialah Nanding, Tanjungara, Pajarbulan
(di sini dolmen ditemukan bersama-sama dengan lesung batu), Gunungmegang,
Tanjungsakti, Pagerdewa, Lampung Barat dan Sumbawa. Dolmen diperkirakan mulai
dikenal dalam masyarakat Indonesia pada zaman bercocok tanam.
Dolmen ini ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia, namun Dolmen telah
ditemukan di Eropa, Asia, dan Afrika, terutama di sepanjang pesisir pantai.
Mereka berasal dari periode Neolithikum awal, sekitar 10.000 tahun sebelum
Masehi.
Kepercayaan Masyarakat masa bercocok tanam memiliki ciri khas yang sesuai
dengan perkembangan penemuan-penemuan barunya. Nilai-nilai hidup semakin
berkembang dan manusia pada waktu itu tidak lagi menggantungkan hidupnya pada
alam, tetapi sudah menguasai alam lingkungan sekitarnya dan aktif membuat
perubahan-perubahan.
Sebagai masyarakat petani, penduduk sudah dapat memproduksi makanan
sehari-hari. Salah satu segi yang menonjol dalam masyarakat adalah sikap
terhadap kehidupan yang sudah mati. Kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap
pada saat orang meninggal, sangat memperngaruhi kehidupan manusia. Roh dianggap
mempunyai kehidupan di alamnya tersendiri sesudah orang meninggal.
Dolmen-dolmen yang masih dapat disaksikan sampai sekarang mempunyai
bentuk-bentuk luar biasa besarnya sehingga kadang-kasdang sulit dibayangkan
bagaimana batu besar dan dengan berat berton-ton itu dapat diangkut.
Pengangkutan batu sampai setinggi dua meter lebih tentu mempunyai teknik
tersendiri di dalam cara pengangkutannya. Besar tiang-tiang penyangga biasanya
disesuaikan dengan besar batu datarnya. Semakin besar batu datar maka semakin
besar pula tiang penyangganya.
Tradisi megalitik di pulau Sumba merupakan hal yang menarik. Tidak hanya
bentuk-bentuknya yang sangat besar yang mempunyai berat berton-ton tetapi
keunikan ini tampak sekali pada pelaksanaan pendiriannya maupun pada
upacara-upacara yang dilaksanakan dalam pendirian bangunan tersebut. Dalam usaha
pencarian batu, dalam pengangkutan batu maupun dalam upacara memasukkan mayat di
dalam dolmen semuanya itu merupakan kegiatan yang menjadi satu rangkaian yang
tidak dapat dipisahkan. Peristiwa-peristiwa itu mengandung nilai historis
arkeologis yang sangat tinggi.




Mungkin artikel lain dibawah ini akan kamu butuhkan ketika kamu mengerjakan soal yang lain. sekian dari WIKITANIC semoga bisa membantu menyelesaikan permasalahanmu ya.

Jika Kalian ingin mencari jawaban lainya, Baca Juga :  Sebut dan jelaskan bentuk bentuk pukulan bola bakar
Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *